|
KARMA NEGARA
Anand Krishna*
Radar Bali, Senin 24 September 2007
Seorang pemikir kawakan, cendekiawan yang cukup
terkenal, pernah menolak pandangan saya dalam sebuah seminar, hanya
karena saya menggunakan “Hukum Karma” sebagai landasan untuk menjelaskan
sesuatu.
“Itu adalah Hukum menurut Teologi Hindu dan Buddhis,
tidak bersifat universal. Janganlah dikaitkan dengan perkara non Hindu
dan non Buddhis!” demikian pendapat dia.
Para supporter bertepuk tangan.... Horre,
hebat, luar biasa!
Kemudian, penjelasan yang saya berikan tenggelam
dalam suara tepukan itu. Hari itu, Hukum Karma dinyatakan Hindu, Buddhis.....
Padahal, Yesus, Sang Masiha yang kucintai pernah
berkata bahwa kita hanya memperoleh hasil dari apa yang kita tanam.
Jangan mengharapkan buah manis jika biji asam yang kita tanam.
Begitu pula dalam firman Allah yang disampaikan
lewat Baginda Rasul, Nabi Muhammad..... Bahwasanya, kelak setiap anggota
badan kita akan dimintai pertanggungan-jawab.
“Karma” berarti “Perbuatan”.
Dan, Perbuatan itu tidak bisa diberi label Hindu,
Buddhis, Muslim, Kristen, atau lain sebagainya. Perbuatan dapat
dijelaskan sebagai perbuatan yang baik dan yang tidak baik. Perbuatan
yang tepat dan tidak tepat. Perbuatan berakhlak dan tidak berakhlak.
Perbuatan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Perbuatan yang
menyejukkan atau justru menggerahkan.
Kebaikan adalah kebaikan, dan kebatilan adalah
kebatilan. Perbuatan tidak membutuhkan label agama. Tapi, tidak....
teman saya hari itu, tidak dapat menerima penjelasan saya. Tidak mau
menerima. Bahkan, tidak mau mendengar.... Saya belum selesai bicara, dia
sudah langsung memotong: “Sudahlah, penjelasan itu merupakan pembelaan
yang bersumber pada kepercayaan Anda!”
Wow,
hebat.....
Tapi, ya, betul juga sih.... Gita, Dhammapada,
Qur’an, Injil – semuanya adalah bagian dari kepercayaan saya, keyakinan
saya. Dengan “memisahkan” kepercayaannya dari kepercayaan saya, hari itu
sesungguhnya ia bergabung dengan kelompok yang dalam firman Allah
disebut kafir. Hati mereka tertutup. Mereka buta.....
Hukum Karma adalah Hukum Perbuatan, Hukum Tindakan.
Dalam bahasa fisika, hukum ini disebut “Hukum Aksi Reaksi”. Setiap aksi
sudah pasti menyebabkan reaksi yang setimpal. Inilah Hukum Sebab Akibat.
Dan, Hukum ini bersifat Universal. Berlaku sama bagi
setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup. Hukum ini tidak tergantung
pada akidah agama tertentu. Ia tidak bersandar pada dogma maupun doktrin
tertentu. Mau percaya atau tidak, hukum ini tetap berlaku bagi semua.
Dan, berlaku sama.
Setiap orang, lelaki maupun perempuan mesti tunduk
pada Hukum Universal ini. Hukum ini berlaku bagi individu, maupun bagi
kelompok. Sehingga, mau tak-mau, kita pun mesti menerima akibat dari
Karma Negara. Negara dimana kita tinggal, kita bermukim.
Saat ini, bila keadaan negeri kita masih terpuruk –
maka keterpurukan itu pun hanyalah akibat dari perbuatan kita sendiri.
Perbuatan kita secara kolektif. Inilah Karma Negara. Benih yang telah
kita tanam dalam ketidaksadaran kita, dan telah kita biarkan tumbuh
besar dalam ketidaktahuan pula – saat ini sedang berbuah!
Tsunami tidak mampu mempersatukan kita.
Gempa Bumi tidak mampu menggetarkan jiwa kita. Dan,
banjir tidak mampu membersihkan sampah-sampah yang ada dalam pikiran
kita. Hasilnya ada di depan mata:
Negara yang kaya raya, dengan sumber alam dan sumber
daya manusia berlimpah telah menjadi negara jajahan baru. Aset-aset kita
dikuasai oleh kekuatan-kekuatan asing. Sumber alam kita dijarah
habis-habisan. Akibatnya, sumber daya manusia kita harus menggadaikan
diri, harus menjual jiwa dan raganya di negeri orang.
Manusia Indonesia pun menjadi jongos di negerinya
sendiri. Tanyalah kepada saudara-saudara kita yang masih bekerja di
perbankan yang sahamnya telah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan
dari luar, “bagaimana kabarmu?”
Jangankan saham bank, gelombang di udara pun sudah
dikuasai oleh perusahaan asing. Sehingga setiap sambungan telepon yang
kita lakukan, setiap SMS yang kita kirim – hanya memperkaya
perusahaan-perusahaan asing.
Maskapai Penerbangan Asing merajalela dan
membanggakan diri sebagai perusahaan yang paling aman, paling murah
pula. Sementara itu, Garuda kita melemah sayapnya. Sayapnya hanya dapat
mengantar kita ke beberapa negara di Asia saja.
Bisnis ritel bertumbuh.... namun pertumbuhan itu pun
dinikmati oleh hyper-market yang berasal dari luar. Bertanyalah
kepada saudara-saudara kita yang menjadi rekanan mereka – dari penawaran
harga hingga pembayaran, semuanya menjadi “perkara”.
Adalah telepon genggam dan otomotif yang menjadi
“komoditas utama” – dan kedua komoditas itu hanya memperkaya
produsen-produsen asing.
Inilah akibat nyata dari perbuatan kita yang tidak
sadar, tanpa kesadaran. Selama bertahun-tahun kita membangun dengan
dana dan ketrampilan dari luar. Kita membangun berdasarkan
survey-report yang berasal dari luar pula. Pembangunan kita
tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar.
Kita tidak pernah mandiri, tidak pernag Berdikari –
Berdiri di atas Kaki Sendiri. Punya industri, tapi bahan bakunya masih
harus diimpor dari luar. Kita tidak mengembangkan industri-industri yang
dapat menggunakan bahan baku dari dalam negeri.
Ketergantungan kita pada kekuatan di luar, telah
berakibat pada kehancuran kita. Kehancuran industri dan kepunahan sumber
alam. Sungguh ironis, bila dalam keadaan terpuruk ini pun masih ada
ekonom dan pejabat negara yang sekedar melihat angka pertumbuhan. Angka
itu tidak riil. Angka itu tergantung pada sekian banyak faktor di luar
kendali kita.
Masih ingat dengan angka pertumbuhan dan pujian yang
pernah diberikan kepada kita oleh Bank Dunia? Semuanya itu hanya
beberapa bulan sebelum kita terjun bebas dari ketinggian imajiner, hanya
beberapa bulan sebelum krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga hari
ini....
Pertanyaan berikutnya: Adakah krisis tersebut memang
krisis buatan? Tidak riil pula. Dan, dibuat oleh segelintir anak cucu
Adam yang memang menginginkan kejatuhan kita – supaya kita terpaksa
menjual diri.
Ada konspirasi besar di balik apa yang terlihat oleh
mata.
Sayangnya, beberapa saudara kita sendiri, secara
sadar maupun tidak sadar, telah menjadi bagian dari konspirasi tersebut.
Kebetulan, saudara-saudara itu berada pada posisi-posisi yang sangat
menentukan. Maka, perbuatan mereka, Karma mereka mempengaruhi setiap
anak bangsa, setiap warga negara, setiap putra dan putri Indonesia.
Konspirasi ini mesti diakhiri.
Dan yang dapat mengakhirinya kita pula.
Hutang-Piutang Karma ini mesti diselesaikan, dan yang menyelesaikannya
pun mesti kita.
Akhir kata: Bergegaslah untuk bersama-sama mulai
menyelesaikan hutang-piutang tersebut. Aku sudah bangun, cangkul sudah
kuangkat.... sekarang aku menunju ladang.... bergabunglah saudaraku......
*
Nasionalis/Spiritualis Lintas Agama, Anand Krishna telah menulis lebih
dari 105 buku (www.anandkrishna.org)
|